Coba lihat beberapa hal yang mungkin Anda temui hari ini.

Harga Rp99.900 di marketplace. Susu yang harus dicari sampai bagian belakang supermarket. Warna pink pada produk perempuan. Bahkan gambar lalat kecil di sebuah urinoir.

Sekilas, semuanya terlihat tidak berhubungan.

Namun, kalau dilihat dari sudut pandang marketing communications dan perilaku konsumen, benda serta kebiasaan sehari-hari tersebut menyimpan cerita yang menarik.

Marketing communications adalah proses yang digunakan organisasi atau brand untuk menyampaikan nilai, membangun persepsi, memengaruhi pemahaman, dan menciptakan hubungan dengan audiens melalui berbagai bentuk komunikasi. Praktiknya tidak selalu berbentuk iklan. Desain, harga, lingkungan, cerita, hingga cara sebuah produk ditempatkan juga dapat membentuk cara orang memandang dan merespons sesuatu.

Itulah ide di balik MARKONAH, seri video Markathing yang membahas marketing communications melalui fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Apa Itu MARKONAH

MARKONAH merupakan singkatan dari Marketing Communications Dalam Narasi Sehari-hari.

Dipandu oleh Irwanher, setiap episode mengambil satu fenomena yang mungkin sering kita lihat tetapi jarang kita pertanyakan. Fenomena tersebut kemudian dibedah dari perspektif marketing, komunikasi, consumer behavior, branding, atau strategi bisnis.

Pendekatannya sengaja dibuat sederhana.

Alih-alih memulai pembahasan dengan definisi textbook, MARKONAH berangkat dari pertanyaan seperti mengapa harga sering berakhir dengan angka sembilan atau mengapa perusahaan ban justru membuat panduan restoran.

Dari pertanyaan kecil seperti itu, kita bisa melihat bahwa komunikasi pemasaran tidak selalu muncul dalam bentuk billboard, iklan televisi, atau social media campaign.

Kadang, strateginya tersembunyi di tempat yang sama sekali tidak kita duga.

Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan strategi serupa untuk kebutuhan bisnis, Markathing juga memiliki layanan marketing communications yang mencakup kebutuhan strategi dan implementasi komunikasi.

Pink untuk Perempuan dan Biru untuk Laki-laki Kok Bisa

Sekarang pink identik dengan perempuan dan biru sering diasosiasikan dengan laki-laki.

Hubungan tersebut terasa begitu normal sampai kita jarang mempertanyakan asalnya.

Padahal, sejarahnya tidak sesederhana pembagian warna yang sudah berlaku sejak dulu. Smithsonian mencatat bahwa penggunaan pink dan biru sebagai penanda gender berubah sepanjang sejarah dan baru semakin menguat pada abad ke-20. Bahkan sumber-sumber awal pernah menunjukkan aturan warna yang tidak konsisten seperti yang kita kenal sekarang.

Apa hubungannya dengan marketing communications?

Kategori produk tidak hanya dibentuk oleh fungsi. Budaya, media, produsen, retailer, dan kebiasaan konsumen ikut membangun makna.

Ketika suatu asosiasi terus diperkuat melalui packaging, fashion, iklan, display toko, dan komunikasi, makna tersebut lama-lama terasa alami.

Padahal, bisa jadi itu adalah konstruksi sosial dan komersial yang terbentuk selama puluhan tahun.

Episode pertama MARKONAH membedah perjalanan tersebut lebih jauh.

Lalat di Urinoir dan Ilmu Nudge

Mengapa seseorang menaruh gambar lalat kecil di dalam urinoir?

Bukan sekadar dekorasi.

Contoh terkenal dari Bandara Schiphol di Amsterdam menggunakan gambar lalat sebagai target visual untuk mendorong pengguna mengarahkan urinenya lebih tepat. Kasus tersebut kemudian sering dibahas sebagai salah satu contoh klasik nudge atau dorongan kecil dalam desain lingkungan yang memengaruhi perilaku tanpa memberikan instruksi panjang.

Pelajarannya untuk komunikasi cukup menarik.

Pesan tidak selalu harus berbentuk kalimat.

Kadang sebuah objek kecil, posisi tertentu, warna, suara, atau susunan lingkungan dapat mengarahkan perilaku lebih efektif daripada papan bertuliskan banyak aturan.

Dalam marketing, pendekatan serupa terlihat pada desain toko, aplikasi, packaging, hingga customer journey.

Pertanyaannya bukan hanya “apa yang ingin kita katakan”, tetapi juga “perilaku apa yang ingin kita permudah”.

Harga Rp99.900 dan Trik Left Digit Effect

Mengapa sebuah produk dihargai Rp99.900 dan bukan Rp100.000?

Selisihnya mungkin kecil, tetapi cara otak memproses angka tidak selalu sepenuhnya matematis.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Consumer Research menjelaskan fenomena left-digit effect. Harga yang berakhir dengan sembilan dapat terasa lebih rendah ketika digit paling kiri berubah, seperti perbedaan persepsi antara 2,99 dan 3,00. Efeknya juga bergantung pada konteks dan harga pembanding.

Artinya, Rp99.900 tidak otomatis membuat semua produk terlihat murah.

Kategori produk, cara konsumen membaca angka, harga pembanding, dan positioning brand tetap berpengaruh.

Justru di sinilah pricing bertemu dengan komunikasi.

Harga tidak hanya menentukan berapa uang yang harus dibayar. Harga juga mengirimkan sinyal tentang keterjangkauan, kualitas, premium value, atau promosi.

Angka yang terlihat sederhana ternyata dapat membawa pesan.

Kenapa Kebutuhan Pokok Selalu di Belakang Supermarket

Pernah masuk supermarket hanya untuk membeli susu lalu keluar membawa lima barang lain?

Layout toko dapat memengaruhi perjalanan pembeli. Penempatan kategori tertentu membuat konsumen melewati lebih banyak area sehingga semakin banyak produk yang terlihat. Penelitian tentang retail layout juga menunjukkan bahwa visibilitas produk dan jalur pergerakan konsumen memang menjadi bagian penting dari perencanaan ruang toko.

Namun, ada nuance yang sering hilang dari cerita ini.

Produk seperti susu dan produk dingin juga sering ditempatkan di area belakang atau perimeter karena alasan operasional, seperti akses ke ruang pendingin, proses restocking, dan infrastruktur refrigeration. Jadi, tidak semua penempatan produk merupakan “trik supermarket”.

Justru kombinasi antara kebutuhan operasional dan desain pengalaman belanja yang membuat topiknya menarik.

Store layout menunjukkan bahwa marketing tidak berhenti ketika konsumen masuk ke toko.

Ruang itu sendiri dapat menjadi media komunikasi.

Michelin dan Guinness Menjalankan Content Marketing Sebelum Zaman Digital

Content marketing terdengar seperti istilah yang lahir bersama blog, Instagram, atau YouTube.

Praktiknya jauh lebih tua.

Michelin membantu orang bepergian

Michelin adalah perusahaan ban.

Namun, pada 1900, Michelin menerbitkan panduan untuk pengendara yang berisi peta, informasi perjalanan, tempat mengisi bahan bakar, tempat menginap, dan tempat makan.

Tujuannya berkaitan erat dengan bisnis mereka. Semakin banyak orang bepergian menggunakan mobil, semakin besar pula kebutuhan terhadap ban.

MICHELIN Guide kemudian berkembang jauh melampaui fungsi awalnya dan menjadi salah satu referensi restoran paling dikenal di dunia.

Ini contoh menarik tentang content marketing.

Brand tidak selalu harus membicarakan produknya secara langsung. Brand bisa menciptakan informasi yang membantu aktivitas di sekitar penggunaan produknya.

Guinness membantu menyelesaikan perdebatan

Guinness World Records juga memiliki asal-usul yang tidak biasa.

Sir Hugh Beaver, Managing Director Guinness Brewery, pernah terlibat perdebatan mengenai burung buruan tercepat di Eropa. Sulitnya menemukan sumber yang bisa menjawab pertanyaan tersebut memunculkan gagasan membuat buku berisi fakta yang dapat membantu menyelesaikan perdebatan serupa di pub.

Ide tersebut kemudian berkembang menjadi Guinness Book of Records, yang edisi pertamanya diterbitkan pada 1955.

Dua kasus tersebut menunjukkan prinsip yang masih relevan sampai sekarang.

Content marketing yang kuat tidak selalu dimulai dari pertanyaan “bagaimana kita menjual produk”.

Kadang pertanyaannya adalah “informasi apa yang benar-benar ingin dicari atau dibicarakan audiens kita”.

Swatch Mengubah Permainan Bukan Sekadar Bermain Lebih Keras

Industri jam Swiss pernah menghadapi tekanan besar ketika teknologi quartz mengubah pasar jam tangan.

Jawabannya bukan hanya membuat jam mekanis yang lebih baik.

Pada 1983, Swatch hadir melalui pendekatan berbeda. Produknya lebih sederhana, lebih terjangkau, berwarna, dan diposisikan sebagai bagian dari fashion, bukan hanya alat penunjuk waktu.

Seiko Museum mencatat kemunculan Swatch sebagai bagian dari reorganisasi dan strategi baru industri jam Swiss setelah tekanan quartz crisis. Model tersebut menggabungkan efisiensi produksi dengan desain dan pemasaran yang berbeda dari pendekatan Swiss tradisional.

Jadi, kisahnya bukan sekadar “Swatch sendirian menyelamatkan Swiss”.

Yang lebih menarik adalah bagaimana perubahan kategori dapat menuntut perubahan cara bermain.

Ketika aturan pasar berubah, meningkatkan aktivitas lama belum tentu cukup.

Kadang brand perlu memikirkan ulang produk, positioning, harga, desain, distribusi, dan narasi secara bersamaan.

Contoh pendekatan campaign semacam ini juga dapat dilihat melalui contoh marketing campaign kami.

Tonton Episode Lengkapnya di YouTube Markathing

Enam pembahasan di atas baru sebagian kecil dari cerita yang dibawa MARKONAH.

Seri ini memiliki 18 tema yang membedah fenomena sehari-hari dari perspektif marketing communications.

  1. Sejak kapan biru untuk pria dan pink untuk wanita?
  2. Mengapa ada gambar lalat kecil di urinoir?
  3. Krisis komunikasi sering bukan disebabkan oleh komunikasi
  4. Apakah packaging merupakan P kelima dalam marketing mix?
  5. Mengapa lampu lalu lintas membutuhkan warna kuning?
  6. Mengapa produsen ban Michelin membuat panduan restoran?
  7. Mengapa Guinness membuat buku rekor dunia?
  8. Mengapa Bear Brand menggunakan sapi, beruang, dan naga sekaligus?
  9. Mengapa harga sering berakhir dengan angka 9?
  10. Mengapa kebutuhan pokok diletakkan di belakang supermarket?
  11. Mengapa belakang pintu toilet efektif untuk pesan layanan masyarakat?
  12. Bagaimana Swatch menyelamatkan industri jam Swiss?
  13. Mengapa LEGO pernah mengganti warna brick-nya?
  14. Ternyata susunan keyboard bukan hanya QWERTY
  15. Benarkah tidak ada loyalitas konsumen di produk FMCG?
  16. Mengapa Khong Guan mempertahankan misteri sosok sang ayah?
  17. Apa hubungan penjualan lipstik dengan kondisi ekonomi?
  18. Apa yang bisa diketahui dari harga seporsi Big Mac?

Masing-masing episode tidak hanya menjawab pertanyaan “kenapa”.

Pembahasannya mengajak kita melihat bagaimana persepsi, perilaku, desain, budaya, sejarah, dan strategi bisnis saling bertemu dalam kehidupan sehari-hari.

FAQ

Apa itu marketing communications

Marketing communications adalah proses menyampaikan nilai, pesan, dan identitas brand kepada audiens melalui berbagai bentuk komunikasi dan touchpoint.

Bentuknya dapat berupa iklan, PR, social media, content marketing, event, packaging, pengalaman toko, hingga elemen lain yang membentuk persepsi konsumen.

Untuk siapa seri MARKONAH

MARKONAH cocok untuk mahasiswa, praktisi marketing, pemilik bisnis, content creator, maupun pembaca umum yang tertarik memahami alasan di balik berbagai fenomena pemasaran.

Seri ini menggunakan contoh sehari-hari sehingga konsep marketing dapat dipahami tanpa harus memulai dari teori yang berat.

Kesimpulan

Marketing communications tidak selalu hadir dalam bentuk campaign besar.

Ia bisa muncul melalui warna yang diasosiasikan dengan gender, angka pada label harga, desain sebuah urinoir, susunan supermarket, buku panduan restoran, atau cara sebuah jam tangan mengubah positioning sebuah kategori.

Fenomena seperti itu yang ingin dibawa MARKONAH ke dalam percakapan.

Bukan dengan membuat marketing terasa lebih rumit, tetapi justru dengan melihat sesuatu yang sudah ada di sekitar kita lalu bertanya satu hal sederhana.

Kenapa dibuat seperti itu?

Dari satu pertanyaan tersebut, kita bisa mulai memahami bagaimana komunikasi, psikologi konsumen, budaya, desain, dan strategi bekerja bersama.

Dan ternyata, bahan belajar marketing ada di mana-mana.

Bahkan di toilet.

//
R u ready to Mark-your-thing? Just chat us!
๐Ÿ‘‹ Hi, how can I help?