
Digital PR adalah praktik public relations yang menggunakan media online, mesin pencari, media sosial, kreator, data digital, dan kanal daring lain untuk membangun reputasi serta hubungan antara organisasi dengan publiknya.
Digital PR bukan sekadar memindahkan press release dari koran ke website. Perbedaannya terletak pada cara audiens menemukan informasi, menyebarkannya, meresponsnya, dan bagaimana hasil komunikasi dapat dipantau secara lebih cepat.
Praktik PR tetap menjadi fondasinya.
Brand perlu memiliki cerita yang relevan, sumber yang kredibel, hubungan dengan media, pesan yang jelas, dan pemahaman tentang stakeholder.
Namun, ruang kerjanya kini jauh lebih luas.
Media online dapat menerbitkan berita dalam hitungan menit. Percakapan dapat berkembang di TikTok atau X. Sebuah artikel dapat muncul di Google berbulan bulan setelah diterbitkan. Brand mention juga dapat menjadi salah satu sumber yang digunakan mesin pencari dan sistem AI ketika mencoba memahami sebuah perusahaan.
Bagi perusahaan Indonesia, perubahan ini membuat Digital PR semakin dekat dengan media relations, content, SEO, social listening, influencer engagement, dan reputation management.
Apa Itu Digital PR
Digital PR merupakan pengembangan praktik PR ke ekosistem digital.
Tujuannya tetap membangun hubungan, kepercayaan, kredibilitas, dan reputasi.
Yang berubah adalah touchpoint dan data yang tersedia.
Digital PR dapat mencakup
- Media relations dengan media online
- Press release dan digital press room
- Thought leadership
- Expert commentary
- Data driven story
- Creator relations
- Community engagement
- Social listening
- Reputation monitoring
- Digital crisis response
Ahrefs menggambarkan Digital PR sebagai penggunaan teknik public relations di ruang digital untuk meningkatkan awareness dan visibility sebuah brand. Salah satu pendekatannya adalah membuat cerita atau data yang relevan bagi media lalu mempromosikannya kepada jurnalis.
Artinya, Digital PR bukan sekadar aktivitas posting.
Ada proses riset, pencarian cerita, distribusi, hubungan dengan pihak ketiga, serta evaluasi.
Digital PR Tetap Berangkat dari Public Relations
Digital PR tidak menggantikan public relations.
Ia menjadi bagian dari evolusinya.
Artikel Markathing mengenai public relations menjelaskan PR sebagai fungsi komunikasi yang mengelola hubungan organisasi dengan media, pelanggan, investor, karyawan, komunitas, dan pemerintah.
Digital PR membawa hubungan tersebut ke ruang online.
Perusahaan masih membutuhkan credibility.
Masih membutuhkan media relations.
Masih membutuhkan spokesperson.
Masih perlu mengelola isu.
Perbedaannya, publik dapat merespons secara langsung dan jejak informasinya dapat bertahan lebih lama.
Digital PR Bukan Digital Marketing
Digital PR dan digital marketing sering berada pada campaign yang sama.
Namun, objective utamanya berbeda.
| Aspek | Digital PR | PR Tradisional | Digital Marketing |
| Fokus utama | Reputasi dan visibility digital | Relasi dan reputasi melalui media serta stakeholder | Acquisition dan conversion |
| Kanal dominan | Media online, search, social, creator | Media cetak, TV, radio, event, media relations | Ads, email, search, social, landing page |
| Bentuk exposure | Banyak mengandalkan earned dan shared | Banyak mengandalkan earned | Banyak menggunakan paid dan owned |
| Kontrol pesan | Sebagian | Sebagian | Relatif tinggi |
| Contoh KPI | Coverage quality, mention, sentiment, referral, brand search | Coverage, message penetration, stakeholder response | Leads, conversion, CAC, ROAS |
| Horizon | Reputasi dan authority | Reputasi dan relationship | Demand dan revenue |
Batasnya tidak selalu kaku.
Sebuah campaign dapat menggabungkan ketiganya.
Masalah muncul ketika perusahaan berharap Digital PR bekerja seperti performance ads.
Liputan media tidak dapat diperlakukan seperti iklan yang dibeli berdasarkan jumlah klik.
Kenapa Digital PR Makin Penting bagi Perusahaan Indonesia
Perilaku audiens Indonesia sudah sangat digital.
DataReportal mencatat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025. Penetrasinya mencapai 80,5 persen populasi. Pada periode yang sama terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial.
Kondisi tersebut membuat reputasi perusahaan semakin sering dibentuk sebelum audiens berbicara langsung dengan perusahaan.
Mereka mencari nama brand.
Membaca artikel.
Membuka media sosial.
Melihat review.
Membandingkan hasil pencarian.
Mencari komentar dari orang lain.
Digital PR membantu perusahaan hadir pada perjalanan tersebut melalui informasi yang lebih kredibel dan relevan.
Informasi Bergerak Lebih Cepat
Satu pemberitaan dapat segera dibagikan ke media sosial.
Potongan wawancara dapat berubah menjadi video pendek.
Komentar eksekutif dapat dikutip kembali.
Kritik konsumen dapat menjadi percakapan besar.
Kecepatan tersebut membuat monitoring tidak dapat dilakukan hanya di akhir bulan.
Tim PR perlu mengetahui bagaimana isu berkembang selama campaign berlangsung.
Komunikasi Menjadi Dua Arah
Pada PR tradisional, publik sering berperan sebagai penerima.
Di kanal digital, mereka dapat langsung memberi komentar, membuat konten tandingan, membagikan pengalaman, atau mengajukan pertanyaan.
Situasi ini membuat Digital PR membutuhkan listening.
Bukan hanya publishing.
Media Search dan AI Mulai Saling Berhubungan
Manfaat Digital PR juga semakin bersinggungan dengan search visibility.
Liputan media dapat menghasilkan brand mention, referral traffic, branded search, dan kadang backlink.
Ahrefs mencatat Digital PR dapat membantu mendapatkan link dari media dan website otoritatif, meskipun link building bukan satu satunya tujuan aktivitas PR.
Perkembangan AI search menambah lapisan baru.
Semrush pada 2026 menempatkan Digital PR sebagai salah satu cara membangun rekam jejak brand di sumber pihak ketiga yang dapat digunakan sistem AI dalam memahami sebuah entitas.
Namun, Digital PR tidak menjamin ranking Google maupun citation AI.
Relevansi topik, kualitas sumber, authority, konteks, serta berbagai faktor lain tetap memengaruhi hasil.
Bagaimana Digital PR Bekerja dalam 4 Tahap
Dari perspektif agency, Digital PR dapat disederhanakan menjadi empat tahap.
Data lalu Konten lalu Distribusi lalu Monitoring.
Framework ini membantu tim menghindari pola kerja yang hanya berfokus pada distribusi press release.
Tahap 1 Riset Data dan Pemetaan Audiens
Mulai dari objective.
Apa yang ingin berubah?
Awareness?
Trust?
Corporate positioning?
Product credibility?
Thought leadership?
Reputation recovery?
Setelah itu tentukan audience.
Media.
Customer.
Investor.
Business decision maker.
Government.
Community.
Creator.
Kemudian cari insight.
Sumbernya dapat berasal dari
- Search behaviour
- Media monitoring
- Social listening
- Customer research
- Internal data
- Survey
- Industry report
- Competitor coverage
- Journalist analysis
Riset membantu menemukan apa yang layak dibicarakan.
Bukan hanya apa yang ingin perusahaan katakan.
Tahap 2 Produksi Konten yang Memiliki Nilai Berita
Digital PR membutuhkan information value.
Peluncuran produk saja belum tentu menarik.
Cari konteks yang lebih luas.
Misalnya perusahaan memiliki data anonim mengenai perubahan perilaku konsumen.
Data tersebut dapat menjadi media story.
Perusahaan memiliki expert yang memahami perubahan regulasi.
Expert commentary dapat menjadi sumber media.
Perusahaan menemukan tren baru di industrinya.
Insight dapat dikembangkan menjadi report.
Format konten dapat berupa
- Press release
- Data story
- Research report
- Expert commentary
- Infografis
- Executive article
- Interview
- Video
- Media kit
Press release tetap relevan sebagai salah satu aktivitas Digital PR.
Namun, press release sebaiknya menjadi kendaraan berita, bukan brosur perusahaan.
Tahap 3 Distribusi melalui Kanal yang Tepat
Setelah konten siap, jangan mendistribusikannya ke semua orang.
Lakukan media mapping.
Pilih jurnalis yang relevan.
Sesuaikan pitch.
Kemudian tentukan kanal lanjutan.
Misalnya
Media online membawa third party credibility.
LinkedIn memperluas thought leadership.
Instagram membawa visual story.
Creator membantu menjangkau komunitas.
Website perusahaan menyimpan sumber asli.
Newsletter membawa informasi ke audience yang sudah memiliki hubungan.
Digital PR bekerja lebih baik ketika setiap kanal memiliki fungsi.
Bukan ketika satu press release ditempel di semua tempat.
Tahap 4 Monitoring dan Pengukuran
Monitoring menjawab dua pertanyaan.
Apa yang terjadi setelah komunikasi berjalan?
Dan
apakah hal tersebut membawa perubahan yang kita inginkan?
Tim dapat memantau
- Media coverage
- Brand mention
- Sentiment
- Share of voice
- Message penetration
- Referral traffic
- Branded search
- Engagement
- Backlink
- Audience response
Markathing sendiri menempatkan media monitoring dan social listening sebagai bagian dari impact evaluation dalam layanan komunikasi. (layanan komunikasi dan PR Markathing)
Digital PR Sebaiknya Diukur Lebih dari Jumlah Coverage
Kesalahan umum reporting PR adalah berhenti pada output.
Misalnya
42 artikel.
15 juta potential reach.
85 mention.
Angka tersebut berguna.
Namun, belum menjelaskan apakah komunikasi berhasil.
AMEC melalui Integrated Evaluation Framework mendorong pengukuran bergerak dari output, outtake, outcome, sampai impact.
Contohnya seperti berikut.
| Level | Pertanyaan | Contoh Metrik |
| Output | Apa yang berhasil diterbitkan | Coverage, mention, backlink, reach |
| Outtake | Apa yang diterima audiens | Recall, engagement, pemahaman |
| Outcome | Apa yang berubah | Awareness, trust, consideration |
| Impact | Apa dampaknya ke organisasi | Lead quality, stakeholder support, reputation shift |
Model ini membuat laporan Digital PR lebih berguna bagi manajemen.
Tim tidak hanya mengatakan berapa artikel yang tayang.
Tim dapat menjelaskan apa yang berubah.
AMEC juga mengingatkan bahwa volume dan impression yang berdiri sendiri memiliki nilai terbatas jika tidak dikaitkan dengan outcome yang ingin dicapai.
Contoh Implementasi Digital PR di Indonesia
Digital PR tidak harus selalu berupa campaign besar.
Berikut beberapa skenario praktis.
Peluncuran Produk
Sebuah perusahaan teknologi Indonesia meluncurkan solusi baru.
Pendekatan biasa adalah mengirim press release tentang fitur.
Pendekatan Digital PR dapat dimulai dari problem yang ingin diselesaikan.
Perusahaan melakukan survei kecil terhadap pelanggan.
Temuannya menunjukkan satu masalah operasional yang sering muncul.
Data tersebut menjadi angle media.
Product launch kemudian masuk sebagai solusi dalam konteks cerita.
Setelah publikasi muncul, perusahaan memperluasnya melalui LinkedIn, executive commentary, social content, dan landing page.
Satu insight menghasilkan beberapa touchpoint.
Thought Leadership B2B
Perusahaan B2B ingin dikenal sebagai expert.
Daripada setiap bulan mengirim release perusahaan, tim dapat mengembangkan topik yang dibutuhkan industri.
Misalnya
Perubahan regulasi.
Perilaku procurement.
Cyber risk.
Supply chain.
Sustainability.
Eksekutif kemudian disiapkan sebagai narasumber.
Digital PR bekerja ketika media membutuhkan perspektif dan perusahaan memiliki expertise yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kampanye Data
Brand consumer memiliki data transaksi anonim.
Data menunjukkan perubahan kebiasaan konsumen menjelang Ramadan.
Tim PR mengolahnya menjadi insight.
Media mendapatkan cerita.
Social team mendapatkan visual.
Creator mendapat discussion point.
Website menyimpan report asli.
Aktivitas seperti ini lebih kuat daripada sekadar mengatakan brand sedang menjalankan campaign Ramadan.
Corporate Reputation
Digital PR juga dapat digunakan untuk komunikasi korporat.
Dalam portfolio Markathing, PT IAS Support Indonesia menggunakan strategic communication advisory yang mencakup communication strategy, key messaging, executive communication materials, dan stakeholder engagement untuk memperkuat konsistensi corporate communication.
Kasus tersebut bukan murni Digital PR.
Namun, prinsipnya relevan.
Digital PR yang efektif tetap membutuhkan narrative, key message, dan alignment sebelum distribusi dilakukan.
Tools Digital PR yang Dapat Digunakan
Tool sebaiknya dipilih berdasarkan proses.
Bukan karena sedang populer.
Media Monitoring
Digunakan untuk memantau coverage, mention, topik, sentiment, dan kompetitor.
Platform profesional dapat membantu otomatisasi.
Tim dengan kebutuhan sederhana juga dapat memulai dari monitoring manual yang terstruktur.
Social Listening
Social listening membantu melihat percakapan yang muncul di luar akun brand.
Gunakan untuk membaca isu, komunitas, recurring complaint, dan perubahan sentimen.
Web Analytics
Google Analytics atau platform analytics lain dapat membantu melihat referral traffic dari publikasi.
Pertanyaannya bukan sekadar berapa orang yang datang.
Lihat juga apa yang mereka lakukan setelah datang.
Search Monitoring
Google Search Console dan SEO tools dapat digunakan untuk melihat branded search, backlink, query, serta visibility.
Journalist Database dan Outreach
Tools Digital PR kini juga membantu mencari jurnalis, menyusun media list, melakukan outreach, dan memonitor coverage.
Semrush, misalnya, memiliki Digital PR toolkit yang mencakup media database, outreach, backlink monitoring, brand mention, dan pemetaan media yang muncul dalam jawaban AI.
Tool mempercepat proses.
Namun, tool tidak menggantikan relevansi cerita dan kualitas hubungan dengan jurnalis.
Digital PR dan SEO Punya Hubungan tetapi Tidak Sama
Pertanyaan ini sering muncul.
Apakah Digital PR bagus untuk SEO?
Bisa.
Namun, SEO bukan satu satunya tujuan.
Digital PR dapat menghasilkan
- Backlink editorial
- Brand mention
- Referral traffic
- Branded search
- Topic authority
- Third party credibility
Ahrefs memasukkan Digital PR sebagai salah satu pendekatan untuk mendapatkan high quality backlinks melalui konten yang memang layak diliput media.
Namun, jangan membuat cerita semata mata demi link.
Prioritas pertama tetap audience dan news value.
Backlink adalah manfaat tambahan ketika media menganggap link tersebut relevan bagi pembaca.
Checklist Strategi Digital PR untuk Bisnis
Bisnis yang baru memulai tidak membutuhkan sistem rumit.
Gunakan delapan pertanyaan berikut.
- Apa objective komunikasinya?
- Siapa audience prioritas?
- Apa yang ingin mereka ketahui?
- Cerita apa yang benar benar memiliki nilai?
- Data atau bukti apa yang tersedia?
- Media dan kanal mana yang relevan?
- Apa yang akan diukur?
- Apa yang dilakukan setelah coverage muncul?
Jika pertanyaan pertama belum jelas, jangan buru buru membuat release.
Jika pertanyaan keempat belum terjawab, jangan buru buru menghubungi jurnalis.
Kesalahan Digital PR yang Sering Terjadi
Mengirim Semua Topik kepada Semua Media
Database besar tidak sama dengan media strategy.
Segmentasikan media berdasarkan desk, topik, audience, dan relevansi.
Menganggap Semua Mention Positif
Coverage perlu dibaca.
Apakah key message masuk?
Apakah konteks sesuai?
Apakah spokesperson dikutip?
Apakah tone pemberitaan mendukung objective?
Mengejar Backlink tetapi Melupakan Reputasi
Digital PR bukan mesin link building.
Tekanan berlebihan untuk mendapatkan link dapat menghasilkan cerita yang tidak relevan atau outreach yang buruk.
Berhenti Setelah Artikel Tayang
Coverage dapat diolah kembali menjadi social content, newsletter, sales material, executive communication, atau discussion point.
Gunakan momentum secara proporsional.
Mengukur hanya Potential Reach
Potential reach bukan jumlah orang yang benar benar membaca.
Gunakan bersama metrik lain.
Lihat engagement, referral, message penetration, branded search, outtake, dan outcome.
FAQ Digital PR
Apa Bedanya Digital PR dengan Media Relations
Media relations berfokus pada hubungan dengan media dan jurnalis.
Digital PR memiliki cakupan lebih luas.
Media relations online merupakan salah satu komponennya, tetapi Digital PR juga dapat mencakup creator, social media, search visibility, owned content, data storytelling, dan monitoring digital.
Apakah Digital PR Bagus untuk SEO
Ya, Digital PR dapat mendukung SEO melalui editorial backlinks, brand mentions, referral traffic, dan peningkatan visibility.
Namun, Digital PR tidak menjamin ranking.
Tujuan utamanya tetap membangun reputasi dan visibility melalui komunikasi yang bernilai.
Apa Itu Digital PR Strategy
Digital PR strategy adalah rencana yang menentukan objective, audience, key message, story angle, kanal distribusi, media target, aktivitas, serta metode pengukuran Digital PR.
Strategi sebaiknya dibuat sebelum produksi konten.
Apa Saja Contoh Digital PR
Contohnya meliputi press release online, media pitching, data story, research report, executive commentary, thought leadership, creator collaboration, digital press room, dan social listening.
Berapa Biaya Digital PR di Indonesia
Tidak ada satu tarif standar.
Biaya bergantung pada scope.
Program yang hanya membutuhkan media strategy dan press office tentu berbeda dari campaign nasional yang melibatkan riset, produksi konten, influencer, media event, monitoring, serta reporting.
Perusahaan sebaiknya meminta breakdown berdasarkan aktivitas dan deliverable.
Jangan menilai proposal hanya dari jumlah media yang dijanjikan.
Apakah SME Bisa Menjalankan Digital PR
Bisa.
Mulai dari satu topik yang benar benar dikuasai.
Bangun hubungan dengan beberapa media yang relevan.
Siapkan expert internal.
Pantau mention.
Ukur respons.
Kualitas insight sering lebih penting daripada ukuran perusahaan.
Kesimpulan
Digital PR adalah pengembangan praktik public relations untuk lingkungan komunikasi digital.
Ia menggabungkan riset, storytelling, media relations, distribusi digital, monitoring, dan measurement.
Namun, digital bukan berarti seluruh strategi harus berpusat pada social media.
Media online tetap penting.
Jurnalis tetap penting.
Expertise tetap penting.
Kepercayaan tetap menjadi tujuan utama.
Yang berubah adalah cara reputasi dibentuk dan cara hasil komunikasi dapat dilacak.
Framework sederhana dapat dimulai dari empat tahap.
Data. Konten. Distribusi. Monitoring.
Data membantu menemukan insight.
Konten mengubahnya menjadi cerita yang relevan.
Distribusi menghubungkannya dengan media serta audience yang tepat.
Monitoring menunjukkan respons dan perubahan yang terjadi.
Digital PR juga dapat membantu SEO dan AI visibility melalui third party mentions dan earned media.
Namun, manfaat tersebut tidak sebaiknya menjadi alasan untuk memproduksi cerita yang tidak relevan.
PR yang kuat tetap berangkat dari kebutuhan publik.
Bukan kebutuhan brand untuk muncul sebanyak mungkin.
Bagi perusahaan Indonesia, Digital PR paling berguna ketika terhubung dengan strategy yang lebih besar, mulai dari positioning, reputation management, media relations, content, hingga evaluasi komunikasi.
Tujuannya bukan sekadar menjadi ramai di internet.
Tujuannya adalah membuat brand ditemukan, dipahami, dipercaya, dan memiliki bukti kredibilitas yang dapat dilihat publik di berbagai ruang digital.


