Logo yang menarik tidak otomatis membuat sebuah brand memiliki posisi yang jelas.

Perusahaan dapat mengganti warna, memperbarui kemasan, membuat kampanye besar, dan meningkatkan aktivitas media sosial. Namun, jika konsumen masih tidak memahami apa yang membedakan brand tersebut dari pesaing, persoalannya kemungkinan berada lebih dalam daripada visual.

Di sinilah brand strategy dibutuhkan.

Brand strategy adalah arah jangka panjang yang menentukan apa yang ingin direpresentasikan sebuah brand, siapa yang ingin dilayani, posisi apa yang ingin dibangun, nilai apa yang ingin diasosiasikan dengannya, serta bagaimana seluruh pengalaman dan komunikasi menjaga posisi tersebut secara konsisten.

Gartner mendefinisikan brand strategy sebagai rencana terintegrasi yang dirancang untuk membawa brand mencapai objective tertentu. Dalam pembahasan terbaru mengenai brand led growth, Gartner juga menekankan bahwa brand strategy perlu terhubung dengan business strategy agar brand dapat menjadi penggerak pertumbuhan, bukan sekadar aset marketing.

Bagi perusahaan, pertanyaan utamanya bukan sekadar seperti apa brand terlihat.

Pertanyaannya adalah apa yang ingin brand tersebut berarti.

Apa Itu Brand Strategy

Brand strategy memberi arah sebelum perusahaan menentukan logo, campaign, media sosial, tagline, atau bentuk komunikasi lainnya.

Ia membantu organisasi mengambil keputusan yang konsisten.

Siapa audiens utamanya?

Masalah apa yang ingin diselesaikan?

Apa yang membuat perusahaan berbeda?

Bagaimana brand harus berbicara?

Pengalaman seperti apa yang perlu diterima pelanggan?

Apakah produk baru harus berada di bawah brand yang sama atau menggunakan nama berbeda?

Semua pertanyaan tersebut berada dalam wilayah strategi merek.

Definisi Brand Strategy dalam Konteks Marketing Communications

Dalam marketing communications, brand strategy menjadi fondasi yang menghubungkan business objective dengan persepsi yang ingin dibangun di benak audiens.

Misalnya sebuah perusahaan ingin dikenal sebagai solusi teknologi yang sederhana untuk bisnis menengah.

Strateginya tidak cukup berhenti pada slogan “teknologi yang mudah”.

Product experience harus sederhana.

Sales presentation perlu menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Website tidak boleh penuh istilah teknis.

Public relations perlu membawa narasi yang sama.

Social media juga harus menunjukkan bagaimana teknologi tersebut menyelesaikan masalah nyata.

Brand strategy memberi arah kepada seluruh aktivitas tersebut.

Marketing communications kemudian menerjemahkannya melalui campaign, PR, media, social media, content, influencer, community, dan berbagai touchpoint lain.

Pendekatan serupa terlihat pada struktur layanan Markathing saat ini. Business Strategy mencakup Market and Stakeholder Intelligence, Communication and Narrative Strategy, serta Brand and Corporate Positioning. Strategi tersebut kemudian diterjemahkan melalui Marketing Communications dan diukur melalui Impact Evaluation.

Perbedaan Brand Strategy Branding dan Brand Identity

Ketiga istilah ini sering digunakan bergantian.

Padahal fungsinya berbeda.

Konsep Fokus Contoh output
Brand Strategy Arah dan keputusan jangka panjang Purpose, positioning, audience, architecture
Branding Proses membangun persepsi Campaign, komunikasi, pengalaman
Brand Identity Sistem identitas yang dapat dikenali Logo, warna, tipografi, visual, verbal identity

Brand strategy menjawab merek ini ingin menjadi apa.

Branding menjawab bagaimana persepsi tersebut dibangun.

Brand identity menjawab bagaimana brand dikenali secara konsisten.

Karena itu, memulai proses branding langsung dari desain sering menghasilkan perubahan kosmetik tanpa perubahan posisi yang berarti.

Artikel Markathing mengenai positioning juga menekankan persoalan serupa. Perusahaan dapat menghabiskan anggaran besar untuk identitas visual, tetapi hasilnya tetap lemah jika konsumen tidak memahami perbedaannya dibanding pesaing.

Mengapa Brand Strategy Penting untuk Bisnis Indonesia

Pasar Indonesia memiliki kategori yang semakin padat.

Konsumen dapat menemukan puluhan pilihan skincare, kopi, aplikasi keuangan, rumah sakit, restoran, platform teknologi, atau jasa profesional hanya dalam beberapa menit.

Masalah perusahaan bukan lagi hanya membuat konsumen mengetahui keberadaan brand.

Brand perlu memberikan alasan mengapa dirinya layak dipertimbangkan.

Membangun diferensiasi di pasar yang kompetitif

Diferensiasi bukan berarti perusahaan harus memiliki produk yang sepenuhnya berbeda dari semua kompetitor.

Perbedaan dapat muncul melalui

Target audience

Value proposition

Product experience

Expertise

Service model

Distribution

Personality

Community

Purpose

Cara brand melihat suatu masalah

Strategi membantu perusahaan memilih perbedaan mana yang benar benar ingin dimiliki.

Tanpa pilihan tersebut, komunikasi mudah berubah menjadi kumpulan klaim generik.

“Kualitas terbaik.”

“Solusi inovatif.”

“Pelayanan terpercaya.”

“Kami selalu mengutamakan pelanggan.”

Semua terdengar positif, tetapi sangat sedikit yang membantu audiens membedakan satu perusahaan dari perusahaan lainnya.

Meningkatkan brand awareness dan loyalitas

Awareness yang tinggi belum tentu menghasilkan brand yang kuat.

Konsumen mungkin mengenal nama perusahaan tetapi tidak tahu apa yang membuatnya berbeda.

Brand strategy membantu memastikan awareness diikuti oleh asosiasi tertentu.

Ketika konsumen memikirkan kategori tersebut, brand tidak hanya hadir sebagai nama.

Ada makna yang ikut muncul.

Makna inilah yang kemudian dapat diperkuat melalui pengalaman produk, komunikasi, pelayanan, dan aktivitas marketing secara konsisten.

Brand yang terus memberikan pengalaman sesuai dengan janjinya memiliki fondasi lebih baik untuk membangun kepercayaan dan loyalitas.

5 Elemen Utama Brand Strategy

Tidak ada satu template brand strategy yang berlaku untuk semua perusahaan.

Namun, lima elemen berikut dapat digunakan sebagai fondasi untuk menyusun arah merek.

1 Brand Purpose

Brand purpose menjawab mengapa brand ada selain menghasilkan pendapatan.

Purpose tidak harus selalu berupa misi sosial besar.

Perusahaan teknologi dapat memiliki purpose membuat sistem kompleks menjadi lebih mudah digunakan.

Brand kesehatan dapat ingin membantu orang mengambil keputusan kesehatan dengan informasi yang lebih dapat dipercaya.

Professional services dapat ingin membantu manajemen membuat keputusan yang lebih baik.

Purpose yang terlalu luas seperti “membuat dunia menjadi lebih baik” sulit digunakan sebagai pedoman.

Purpose yang baik membantu organisasi menentukan keputusan.

Jika sebuah aktivitas sama sekali tidak mendukung alasan keberadaan brand, perusahaan dapat mempertanyakan apakah aktivitas tersebut perlu dilakukan.

2 Brand Positioning

Brand positioning menentukan ruang yang ingin dimiliki sebuah brand di benak target audience dibandingkan pilihan lain.

Positioning yang baik menjawab empat pertanyaan.

Siapa target utama?

Kategori apa yang dimainkan?

Apa manfaat atau nilai utamanya?

Mengapa audiens perlu percaya?

Contohnya, perusahaan tidak cukup mengatakan ingin menjadi “brand skincare terbaik”.

Posisi yang lebih berguna dapat berupa brand dermatology untuk kulit sensitif dengan formulasi yang berfokus pada kebutuhan iklim tropis.

Semakin jelas posisinya, semakin mudah perusahaan menentukan pesan, produk, channel, partnership, dan pengalaman.

3 Brand Personality

Brand personality menentukan karakter manusia yang ingin terasa ketika brand berkomunikasi.

Apakah brand terdengar profesional?

Hangat?

Berani?

Cerdas?

Praktis?

Eksperimental?

Personality membantu menjaga tone of voice tetap konsisten meskipun format komunikasi berubah.

Press release dapat terdengar lebih formal daripada TikTok.

Namun, keduanya tetap harus terasa berasal dari brand yang sama.

Personality juga membantu creative team mengambil keputusan tanpa selalu menunggu petunjuk dari awal.

4 Brand Architecture

Brand architecture mengatur hubungan antara parent brand, sub brand, produk, layanan, dan berbagai brand lain dalam satu perusahaan.

NielsenIQ menjelaskan brand architecture sebagai sistem untuk mengelola berbagai brand dan komponennya dalam satu kerangka yang menunjukkan hierarki, hubungan, dan fungsi masing masing.

Pertanyaan ini menjadi penting ketika perusahaan berkembang.

Apakah produk baru menggunakan nama perusahaan?

Apakah menggunakan sub brand?

Apakah perlu berdiri sendiri?

Apakah reputasi parent brand membantu atau justru membatasi?

Tanpa architecture yang jelas, perusahaan dapat memiliki terlalu banyak nama yang bersaing mendapatkan perhatian dari audiens yang sama.

5 Brand Experience

Brand strategy baru benar benar terasa ketika audiens berinteraksi dengan perusahaan.

Iklan dapat mengatakan pelayanan mudah.

Jika proses pembelian rumit, pengalaman konsumen mengatakan hal sebaliknya.

Perusahaan dapat mengatakan dirinya premium.

Jika packaging, customer service, website, dan store experience tidak mendukung, positioning tersebut sulit dipercaya.

Brand experience mencakup seluruh touchpoint yang membentuk persepsi.

Mulai dari melihat iklan, membuka website, berbicara dengan sales, membeli, menerima produk, menghubungi customer service, sampai menggunakan produk dalam jangka panjang.

Cara Membuat Brand Strategy dalam 5 Langkah

Brand strategy sebaiknya dibangun berdasarkan insight, bukan preferensi internal.

1 Riset Pasar dan Target Audiens

Mulailah dengan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di pasar.

Periksa

Perubahan kebutuhan konsumen

Kompetitor utama

Positioning kompetitor

Perception terhadap kategori

Hambatan pembelian

Customer journey

Cultural context

Tren yang dapat memengaruhi kategori

Riset juga harus membedakan antara siapa yang menggunakan produk dan siapa yang membuat keputusan.

Pada bisnis B2B, pengguna layanan belum tentu decision maker.

Pada consumer goods, pembeli belum tentu selalu orang yang menggunakan produk.

Brand strategy yang dibangun berdasarkan audience terlalu luas akan menghasilkan pesan terlalu umum.

2 Definisikan Brand Purpose dan Positioning

Setelah memahami pasar, tentukan ruang yang ingin dimiliki brand.

Tidak perlu mencoba menarik semua orang.

Brand yang ingin menjadi premium mungkin harus menerima bahwa sebagian konsumen akan memilih alternatif yang lebih murah.

Brand yang ingin dikenal sebagai specialist harus berani tidak mengklaim mampu melakukan semua hal.

Positioning membutuhkan pilihan.

Tuliskan dengan sederhana

Untuk siapa brand bekerja.

Masalah apa yang diselesaikan.

Nilai apa yang diberikan.

Apa yang membuatnya berbeda.

Apa bukti yang mendukung klaim tersebut.

Positioning kemudian menjadi acuan untuk menentukan produk, komunikasi, partnership, dan pengalaman.

3 Kembangkan Brand Personality dan Messaging

Positioning menentukan apa yang ingin dimiliki.

Messaging menentukan bagaimana hal tersebut dijelaskan.

Bangun message architecture yang mencakup

Core message

Satu gagasan utama yang harus dipahami audiens.

Supporting message

Beberapa alasan yang memperkuat pesan utama.

Proof point

Data, pengalaman, teknologi, sertifikasi, portfolio, atau fakta yang membuat pesan dapat dipercaya.

Tone of voice

Cara brand menyampaikan pesan.

Framework ini membuat komunikasi lebih konsisten ketika digunakan oleh marketing, PR, sales, leadership, social media, maupun customer service.

4 Integrasikan dengan Marketing Communications Mix

Brand strategy yang hanya tersimpan dalam presentation deck belum menjadi strategi yang bekerja.

Ia harus diterjemahkan ke channel.

Jika brand ingin dikenal melalui expertise, content marketing dan thought leadership mungkin memiliki peran besar.

Jika brand ingin membangun community, social media dan community engagement dapat menjadi prioritas.

Jika brand membutuhkan legitimasi di kategori baru, media relations dan public relations dapat membantu.

Jika awareness rendah, paid media mungkin perlu mempercepat reach.

Tidak semua channel harus digunakan.

Yang lebih penting adalah setiap channel membawa arah brand yang sama.

Markathing menempatkan Campaign Strategy and Integrated Communications, Public Relations and Media Strategy, Digital and Social Marketing, Content Systems, Influencer, Community, serta Reputation Management dalam satu area Marketing Communications. Struktur tersebut menunjukkan bahwa execution idealnya bergerak dari fondasi strategi yang sama.

5 Ukur dan Iterasi

Brand strategy memiliki horizon jangka panjang, tetapi bukan berarti tidak boleh berubah.

Yang dievaluasi dapat mencakup

Brand awareness

Brand recall

Consideration

Preference

Perception terhadap atribut tertentu

Share of search

Customer satisfaction

Brand experience

Stakeholder perception

Business performance

Jangan mengganti positioning setiap kali satu campaign tidak mencapai target.

Bedakan masalah strategi dengan masalah execution.

Campaign dapat gagal karena creative lemah.

Media mix dapat tidak tepat.

Distribusi bisa kurang.

Produk dapat memiliki masalah.

Perubahan brand strategy diperlukan ketika asumsi fundamental mengenai pasar, audience, category, atau value proposition memang berubah.

Contoh Brand Strategy di Indonesia

Strategi merek menjadi lebih mudah dipahami ketika dilihat melalui keputusan nyata.

Tolak Angin dan Modernisasi Jamu

Tolak Angin memberikan contoh menarik mengenai konsistensi brand yang tetap beradaptasi.

Sido Muncul menjelaskan bahwa perusahaan memodernisasi jamu agar sesuai dengan gaya hidup konsumen Indonesia masa kini dengan tetap mempertahankan penggunaan rempah dan tanaman obat Indonesia. Tolak Angin sendiri dikembangkan menjadi jamu cair siap minum agar lebih praktis dikonsumsi.

Di sini terlihat hubungan antara produk, kategori, dan experience.

Warisan jamu tidak dibuang.

Yang berubah adalah bagaimana manfaat tersebut dibawa ke kehidupan konsumen modern.

Pada 2026, Tolak Angin juga memperkenalkan Nicholas Saputra sebagai brand ambassador dan meluncurkan iklan bertema “Dari Indonesia untuk Dunia”. Manajemen menjelaskan bahwa figur tersebut dipilih karena dianggap modern, cerdas, aktif, dan memiliki citra yang sesuai dengan nilai brand. Kampanye juga membawa pesan mengenai riset dan perjalanan Tolak Angin dari produk tradisional menuju pasar yang lebih luas.

Pelajaran strateginya bukan bahwa setiap brand harus memakai selebritas.

Yang lebih penting adalah kesesuaian antara figur, narrative, product heritage, dan arah yang ingin dibangun.

Pixy Aqua Protection Series dan Relevansi Audiens

Portfolio Markathing untuk Pixy Aqua Protection Series memberikan contoh lain.

Campaign diarahkan kepada perempuan yang sering terpapar kondisi outdoor, termasuk komunitas pesepeda perempuan dan pengemudi online perempuan. Cerita kemudian dibangun dari pengalaman mereka, dibawa melalui awareness video, social media, serta key opinion customer.

Strategi ini menunjukkan bahwa positioning tidak cukup dibuat dalam kalimat.

Brand perlu menemukan situasi nyata ketika value produk memang terasa relevan.

Community kemudian tidak hanya berfungsi sebagai distribution channel.

Ia menjadi bagian dari bukti bahwa cerita brand memiliki hubungan dengan pengalaman audiens.

Brand Strategy dalam Market Entry Indonesia

Brand internasional yang masuk ke Indonesia juga membutuhkan keputusan strategis sebelum menjalankan campaign.

Strategi global tidak selalu dapat disalin secara langsung.

Perusahaan perlu memahami konsumen lokal, category perception, kompetitor, bahasa komunikasi, stakeholder, serta faktor budaya dan regulasi.

Markathing saat ini menempatkan Go to Market and Market Entry Strategy sebagai bagian dari Business Strategy. Dalam pembahasan market entry, Markathing juga menekankan bahwa perusahaan perlu memikirkan consumer insight, competitor mapping, stakeholder, komunikasi publik, dan reputation risk sejak sebelum launch.

Dalam konteks ini, brand strategy menjawab satu pertanyaan penting.

Apakah posisi brand global masih relevan bagi audiens Indonesia, atau perlu diterjemahkan ulang tanpa kehilangan identitas inti?

Brand Strategy dan Marketing Strategy Apa Bedanya

Keduanya saling terkait tetapi tidak identik.

Aspek Brand Strategy Marketing Strategy
Fokus Posisi dan makna brand Cara memenangkan pasar
Horizon Jangka panjang Menengah hingga panjang
Pertanyaan utama Brand ingin dikenal sebagai apa Bagaimana mencapai target market dan business objective
Area Purpose, positioning, personality, experience Segmentasi, target, value proposition, channel, pricing
Output komunikasi Narrative dan brand direction Marketing plan dan go to market

Marketing strategy menentukan target market, value proposition, cara perusahaan bersaing, serta bagaimana resource marketing digunakan.

Brand strategy memastikan perusahaan memiliki posisi dan identitas yang konsisten ketika strategi tersebut dijalankan.

Markathing sendiri menjelaskan marketing strategy sebagai arah yang menentukan target market, nilai yang ditawarkan, positioning, dan penggunaan resource untuk mencapai tujuan bisnis.

Kapan Fokus pada Brand Strategy

Brand strategy perlu mendapat perhatian lebih besar ketika

Konsumen tidak memahami perbedaan brand

Perusahaan mengalami perubahan besar

Brand memasuki kategori baru

Portfolio produk mulai membingungkan

Brand akan memasuki negara baru

Komunikasi lintas channel tidak konsisten

Brand dianggap tidak lagi relevan

Marketing strategy menjadi lebih dominan ketika perusahaan sudah memiliki posisi yang cukup jelas tetapi perlu meningkatkan penetrasi, memilih segmen, memperluas distribusi, menentukan pricing, atau meningkatkan conversion.

Integrasi dengan Integrated Marketing Communications

Keduanya akhirnya bertemu di marketing communications.

Brand strategy menentukan arah.

Marketing strategy menentukan cara memenangkan pasar.

Marketing communications menerjemahkan keduanya menjadi pesan dan aktivitas yang dilihat audiens.

Misalnya positioning sebuah brand adalah layanan finansial yang sederhana bagi pemilik bisnis kecil.

Marketing strategy menentukan segmen prioritas, pricing, acquisition channel, dan target pertumbuhan.

Marketing communications menerjemahkannya melalui campaign, tutorial, media relations, social media, partnership, dan customer education.

Ketiganya perlu berjalan dalam satu arah.

Kesalahan Umum dalam Membangun Brand Strategy

Fokus Berlebihan pada Visual

Brand refresh sering dimulai dari pertanyaan mengenai logo baru.

Padahal visual merupakan output.

Sebelum mengganti identitas, perusahaan perlu mengetahui apa masalah sebenarnya.

Jika persoalannya adalah positioning yang tidak jelas, perubahan visual saja tidak menyelesaikannya.

Jika produknya memiliki pengalaman buruk, logo baru juga tidak memperbaikinya.

Visual tetap penting karena membantu recognition.

Namun, desain perlu membawa strategi, bukan menggantikannya.

Messaging Berbeda di Setiap Channel

Website mengatakan satu hal.

Sales deck membawa positioning lain.

PR berbicara tentang hal berbeda.

Social media mengikuti tren apa pun yang sedang ramai.

Akibatnya, setiap komunikasi mungkin terlihat baik secara individual, tetapi brand secara keseluruhan terasa tidak memiliki arah.

Message architecture membantu mengurangi masalah ini.

Tim tetap dapat menggunakan gaya berbeda menurut channel selama ide utamanya konsisten.

Positioning Terlalu Luas

Perusahaan sering takut membatasi dirinya.

Akibatnya muncul positioning seperti

“Solusi lengkap untuk semua kebutuhan.”

Kalimat tersebut terlihat aman tetapi tidak menciptakan perbedaan.

Strategi membutuhkan keberanian untuk memilih.

Brand tidak harus menjadi pilihan semua orang.

Ia perlu menjadi pilihan yang jelas bagi audiens yang memang penting bagi bisnis.

Tidak Menghubungkan Brand dengan Pengalaman

Brand promise harus dapat dibuktikan.

Jika brand menjanjikan kecepatan, proses harus cepat.

Jika menjanjikan personal service, pelanggan harus merasakan layanan personal.

Jika mengatakan sustainable, praktik perusahaan harus mendukung klaim tersebut.

Perbedaan antara komunikasi dan pengalaman merupakan salah satu penyebab paling cepat rusaknya kepercayaan.

FAQ Brand Strategy

Apa perbedaan brand strategy dan branding strategy

Dalam praktik, kedua istilah sering digunakan untuk merujuk konsep yang sama.

Brand strategy lebih umum digunakan untuk menggambarkan arah strategis merek seperti purpose, positioning, audience, personality, dan experience.

Branding strategy kadang digunakan untuk menjelaskan cara membangun persepsi brand melalui aktivitas branding.

Yang lebih penting daripada istilahnya adalah scope pekerjaan yang dimaksud.

Berapa lama proses membuat brand strategy

Tidak ada durasi yang berlaku untuk semua perusahaan.

Bisnis sederhana dengan satu produk dapat menyusun fondasi strategi lebih cepat daripada perusahaan dengan banyak unit, produk, negara, dan stakeholder.

Proses biasanya mencakup riset, analisis, stakeholder alignment, positioning development, message development, dan validation.

Setelah strategy selesai, implementasi dan evaluasinya berjalan secara berkelanjutan.

Apakah brand strategy hanya untuk perusahaan besar

Tidak.

Perusahaan kecil justru dapat memperoleh manfaat besar ketika memiliki posisi yang jelas sejak awal.

Strateginya tidak perlu rumit.

Sebuah bisnis kecil cukup memahami target audience, value proposition, positioning, personality, dan pengalaman yang ingin diberikan secara konsisten.

Kompleksitas strategy harus mengikuti kompleksitas bisnis.

Apakah brand strategy sama dengan brand identity

Tidak.

Brand strategy menentukan arah dan posisi.

Brand identity menerjemahkan sebagian arah tersebut menjadi sistem identitas seperti logo, warna, typography, visual language, dan verbal identity.

Idealnya identity dibuat setelah strategic direction cukup jelas.

Apakah brand strategy perlu diubah

Ya, tetapi tidak terlalu sering.

Perubahan dapat diperlukan ketika pasar berubah secara fundamental, perusahaan memasuki kategori baru, target audience berubah, merger terjadi, portfolio bisnis berkembang, atau positioning lama sudah tidak relevan.

Campaign yang kurang berhasil bukan alasan otomatis untuk mengganti seluruh brand strategy.

Kesimpulan

Brand strategy bukan dokumen tentang logo, warna, atau tagline.

Ia adalah fondasi keputusan mengenai apa yang ingin direpresentasikan brand, siapa audiensnya, posisi apa yang ingin dimiliki, karakter seperti apa yang dibawa, bagaimana portfolio disusun, dan pengalaman seperti apa yang harus dirasakan pelanggan.

Lima elemen utamanya adalah brand purpose, brand positioning, brand personality, brand architecture, dan brand experience.

Proses menyusunnya juga perlu bergerak secara runtut.

Mulai dari riset pasar dan audiens.

Definisikan purpose dan positioning.

Bangun personality dan messaging.

Integrasikan ke marketing communications.

Lalu ukur dan perbaiki berdasarkan perubahan pasar maupun persepsi.

Contoh Tolak Angin menunjukkan bagaimana heritage dapat terus relevan ketika produk, figur komunikasi, dan narrative bergerak mengikuti perubahan konsumen tanpa kehilangan identitas dasarnya. Portfolio Pixy menunjukkan bagaimana positioning dapat diterjemahkan menjadi cerita yang relevan dengan pengalaman komunitas tertentu.

Brand strategy pada akhirnya bukan soal membuat perusahaan terlihat berbeda.

Strategi harus membuat perusahaan memiliki alasan yang jelas untuk berbeda, lalu membuktikan perbedaan tersebut melalui produk, komunikasi, dan pengalaman.

Markathing sendiri menempatkan Brand and Corporate Positioning, Communication and Narrative Strategy, serta Market and Stakeholder Intelligence dalam Business Strategy sebelum strategi diterjemahkan menjadi campaign, PR, content, social media, dan aktivitas marketing communications lainnya.

Bagi perusahaan yang ingin menghubungkan brand strategy dengan eksekusi lintas channel, layanan marketing communications dapat menjadi referensi untuk melihat bagaimana strategi diterjemahkan menjadi sistem komunikasi.

Pembaca juga dapat melihat portfolio marketing campaign Markathing dan communication framework Markathinguntuk memahami hubungan antara strategi, pesan, channel, dan implementasi.

Sementara informasi mengenai perspektif serta pengalaman tim tersedia melalui tentang Markathing sebagai integrated marcomms specialist. Markathing saat ini memosisikan dirinya sebagai marketing communications consulting firm dengan fokus pada research, brand positioning, business objective, dan real world execution.

//
R u ready to Mark-your-thing? Just chat us!
๐Ÿ‘‹ Hi, how can I help?