
Pemberitaan media dapat memengaruhi cara publik memahami sebuah perusahaan, produk, isu, bahkan keputusan bisnis.
Namun, mendapatkan ruang di media bukan sekadar soal mengirim press release sebanyak mungkin. Jurnalis memiliki kebutuhan informasi, pembaca, agenda editorial, tenggat waktu, serta standar berita yang berbeda dengan kepentingan perusahaan.
Media relations bekerja di antara dua kepentingan tersebut.
Media relations adalah upaya membangun dan menjaga hubungan profesional yang saling bermanfaat antara organisasi dengan jurnalis atau media agar informasi yang memiliki nilai berita dapat disampaikan kepada publik secara tepat.
Public Relations Society of America atau PRSA memasukkan kegiatan mencari publisitas, merespons pertanyaan jurnalis, memahami kepentingan audiens media, dan menjaga daftar kontak media sebagai bagian dari media relations.
Artinya, media relations bukan aktivitas transaksional untuk “meminta berita naik”.
Hubungan dengan media perlu dibangun dari relevansi informasi, kredibilitas sumber, kecepatan respons, serta kemampuan perusahaan memahami bagaimana sebuah cerita bekerja dari perspektif jurnalistik.
Bagi bisnis, kemampuan ini menjadi semakin penting ketika reputasi tidak hanya dibentuk oleh apa yang perusahaan katakan tentang dirinya sendiri, tetapi juga oleh bagaimana pihak independen memberitakan, menilai, dan menjelaskan perusahaan kepada publik.
Apa Itu Media Relations
Media relations merupakan salah satu fungsi dalam public relations yang secara spesifik mengelola hubungan antara organisasi dengan media dan jurnalis.
Tujuannya tidak harus selalu mendapatkan publikasi sebanyak mungkin.
Dalam praktik yang sehat, media relations membantu perusahaan memastikan informasi yang relevan dapat diakses, dipahami, dan diverifikasi oleh media. Pada saat yang sama, perusahaan memperoleh pemahaman lebih baik mengenai kebutuhan informasi publik melalui pertanyaan dan perhatian jurnalis.
Hubungannya bersifat dua arah.
Perusahaan membutuhkan media untuk menjangkau publik dan mendapatkan validasi independen. Media membutuhkan sumber yang kredibel, data yang dapat dipertanggungjawabkan, narasumber yang memahami isu, serta respons yang cepat.
Ketika kedua kebutuhan tersebut bertemu, hubungan dapat berkembang melampaui satu press release atau satu campaign.
Definisi media relations menurut para ahli
PRSA mendefinisikan media relations sebagai hubungan yang saling menguntungkan antara praktisi public relations dengan jurnalis untuk menjangkau audiens melalui informasi yang memiliki nilai berita. Fungsi ini mencakup aktivitas proaktif mencari peluang publisitas dan aktivitas reaktif ketika organisasi menerima pertanyaan dari media.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep public relations yang lebih luas.
Cutlip dan Center memandang public relations sebagai fungsi manajemen yang membangun serta memelihara hubungan yang saling bermanfaat antara organisasi dan publik yang menentukan keberhasilan organisasi. Sementara Grunig dan Hunt menjelaskan public relations sebagai pengelolaan komunikasi antara organisasi dan publiknya. Kedua definisi tersebut dirangkum dalam materi profesional PRSA.
Media menjadi salah satu publik sekaligus perantara yang dapat membawa informasi kepada publik lain.
Karena itu, kualitas media relations tidak hanya ditentukan oleh jumlah wartawan dalam database.
Kemampuan memahami hubungan, kepentingan publik, kredibilitas informasi, dan konteks berita jauh lebih penting.
Perbedaan media relations dan public relations
Media relations dan public relations sering dianggap sama, padahal cakupannya berbeda.
| Aspek | Media Relations | Public Relations |
| Fokus utama | Hubungan dengan media dan jurnalis | Hubungan organisasi dengan seluruh stakeholder |
| Target | Reporter, editor, produser, media | Konsumen, pemerintah, investor, karyawan, komunitas, media dan stakeholder lain |
| Aktivitas | Media mapping, pitching, press briefing, interview, media response | Stakeholder engagement, crisis communication, internal communication, public affairs, media relations |
| Output | Coverage, interview, media inquiry, editorial exposure | Reputasi, trust, stakeholder relationship, perubahan pemahaman atau perilaku |
| Posisi | Salah satu fungsi PR | Disiplin komunikasi yang lebih luas |
PRSA memasukkan media relations sebagai salah satu fungsi public relations bersama crisis communications, corporate communications, internal communications, public affairs, content creation, social media, dan reputation management.
CIPR juga menekankan bahwa public relations tidak boleh direduksi menjadi hubungan dengan wartawan. PR mencakup pembentukan hubungan dengan berbagai stakeholder dan pengelolaan reputasi organisasi secara lebih luas.
Mengapa media relations penting untuk bisnis
Bisnis dapat membeli ruang iklan.
Namun, perusahaan tidak dapat membeli keputusan editorial media independen dengan mekanisme yang sama.
Ketika sebuah perusahaan dikutip sebagai narasumber, produknya dibahas dalam konteks industri, atau pandangannya masuk ke pemberitaan, terdapat lapisan validasi eksternal yang berbeda dari iklan.
Media relations juga membantu perusahaan menghadapi situasi ketika perhatian publik muncul tanpa direncanakan.
Jurnalis dapat menghubungi perusahaan saat terjadi isu, perubahan regulasi, keluhan pelanggan, kecelakaan, konflik industri, atau perkembangan lain yang membutuhkan penjelasan.
Hubungan yang baru dibangun ketika krisis terjadi biasanya jauh lebih sulit dibandingkan hubungan profesional yang sudah dipelihara sebelumnya.
Apa Fungsi dan Manfaat Media Relations
Media relations bukan sekadar mengejar jumlah artikel.
Nilainya muncul ketika hubungan dengan media membantu objective komunikasi dan bisnis yang lebih besar.
Membangun kredibilitas dan trust
Perusahaan tentu dapat mengatakan bahwa produknya berkualitas atau organisasinya memiliki expertise tertentu.
Namun, klaim tersebut memiliki karakter berbeda ketika informasi yang sama diuji, dikutip, atau digunakan oleh media independen.
Media coverage tidak otomatis berarti endorsement.
Jurnalis tetap memiliki independensi editorial. Justru independensi tersebut yang membuat earned media memiliki karakter berbeda dari paid media.
Perusahaan perlu memberi informasi yang faktual, narasumber yang kompeten, dan bukti yang dapat diperiksa.
Semakin kuat substansinya, semakin kecil kebutuhan untuk memaksa pesan promosi masuk ke dalam pemberitaan.
Meningkatkan brand awareness
Media dapat memperkenalkan perusahaan kepada audiens yang sebelumnya tidak mengenalnya.
Namun, awareness yang berguna bukan sekadar nama perusahaan muncul.
Konteks kemunculannya juga menentukan.
Brand teknologi yang ingin dikenal sebagai ahli keamanan data, misalnya, akan memperoleh nilai lebih besar ketika spokesperson-nya rutin memberikan perspektif pada isu keamanan dibandingkan sekadar disebut dalam berita acara perusahaan.
Karena itu, media relations perlu dikaitkan dengan positioning.
Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya “berapa banyak pemberitaan yang kita dapat”.
Pertanyaan yang lebih strategis adalah “dalam konteks apa perusahaan ingin dikenal”.
Mendukung manajemen krisis
Saat krisis terjadi, kecepatan dan kejelasan informasi menjadi sangat penting.
Media dapat menjadi salah satu sumber utama publik untuk memahami apa yang terjadi.
Perusahaan yang tidak siap menghadapi media berisiko menghasilkan kekosongan informasi. Kekosongan tersebut dapat diisi spekulasi, sumber yang tidak lengkap, atau narasi pihak lain.
Media relations dalam crisis communication mencakup kesiapan spokesperson, holding statement, daftar pertanyaan sulit, proses approval, media monitoring, dan sistem respons terhadap inquiry.
Prinsipnya bukan menutup informasi.
Tim perlu menentukan fakta apa yang sudah dapat dikonfirmasi, apa yang masih diperiksa, siapa yang berwenang memberikan pernyataan, dan kapan pembaruan berikutnya dapat diberikan.
PRSA juga memasukkan media training, hubungan dengan reporter, dan kesiapan menghadapi informasi keliru sebagai bagian penting komunikasi publik dan krisis.
Mendorong earned media
Earned media adalah exposure yang diperoleh melalui keputusan editorial atau pembicaraan pihak lain, bukan melalui pembelian placement seperti iklan.
Namun, kata “earned” perlu dipahami secara literal.
Coverage harus diperoleh.
Tim perlu mencari angle yang relevan, menyiapkan data, memahami media, menghubungi jurnalis yang tepat, menjawab pertanyaan, dan sering kali melakukan follow up.
PRSA mengingatkan bahwa media relations memerlukan kerja dan perencanaan. Bahkan cerita yang baik belum tentu langsung diterima karena jurnalis memiliki editorial calendar, tenggat, breaking news, dan prioritas lain.
Itulah sebabnya media relations lebih tepat dilihat sebagai proses hubungan jangka panjang daripada mesin distribusi press release.
Strategi Media Relations untuk Bisnis
Strategi yang baik dimulai sebelum perusahaan menghubungi media.
Salah satu alur sederhana yang dapat digunakan adalah Map, Build, Engage, Respond, Measure.
| Tahap | Fokus | Pertanyaan utama |
| Map | Memahami media | Media mana yang relevan dengan audiens dan isu |
| Build | Menyiapkan aset | Informasi dan narasumber apa yang bernilai |
| Engage | Membangun hubungan | Bagaimana berinteraksi secara relevan |
| Respond | Mengelola inquiry | Bagaimana memberikan respons cepat dan akurat |
| Measure | Mengevaluasi hasil | Apa yang berubah setelah aktivitas dilakukan |
Riset dan pemetaan media
Database media yang panjang belum tentu berarti strategi lebih kuat.
Perusahaan perlu memetakan media berdasarkan relevansi.
Mulailah dari audiens.
Jika perusahaan bergerak di B2B technology, media ekonomi, bisnis, teknologi, dan industri tertentu mungkin jauh lebih penting daripada portal dengan traffic besar tetapi audiens tidak relevan.
Media mapping dapat mencakup
- Nama media
- Desk atau rubrik
- Jurnalis yang relevan
- Topik yang rutin mereka liput
- Format konten
- Audiens utama
- Riwayat pemberitaan kategori
- Potensi isu sensitif
- Pola publikasi
Pemetaan harus diperbarui.
Jurnalis dapat berpindah media atau desk. Fokus editorial juga berubah.
Kesalahan paling sederhana dalam media relations adalah mengirim topik yang salah kepada orang yang salah.
Press release yang efektif
Press release bukan brosur perusahaan yang dipindahkan ke format berita.
Jurnalis mencari nilai berita.
Karena itu, release harus menjawab beberapa hal sejak awal.
Apa yang baru?
Mengapa publik perlu peduli?
Siapa yang terdampak?
Data atau fakta apa yang mendukung?
Siapa yang dapat memberikan penjelasan?
Judul harus jelas. Lead menjelaskan inti berita. Isi memberikan konteks, data, kutipan, dan informasi pendukung.
Hindari memenuhi release dengan kata seperti “terbaik”, “terdepan”, “revolusioner”, atau “inovatif” tanpa bukti.
Jika sebuah produk benar benar menawarkan perubahan penting, jelaskan perubahannya.
Biarkan fakta bekerja.
Membangun hubungan dengan jurnalis
Hubungan media tidak dimulai ketika perusahaan membutuhkan liputan.
Prinsip yang lebih sehat adalah membangun familiarity dan credibility secara bertahap.
Kenali bidang liputan jurnalis.
Baca artikel mereka.
Jangan mengirim pitch massal yang tidak relevan.
Ketika menghubungi, jelaskan alasan topik tersebut cocok dengan area liputan mereka.
Jangan menganggap setiap interaksi harus berujung pada coverage.
Kadang perusahaan dapat membantu hanya dengan menyediakan data, menghubungkan expert, atau memberi konteks industri.
PRSA menyebut pentingnya “relations” dalam media relations. Hubungan dengan reporter perlu diperlakukan sebagai hubungan profesional antarmanusia, bukan transaksi ketika perusahaan membutuhkan sesuatu.
Monitoring dan measurement
Mengukur media relations hanya dari jumlah artikel memiliki keterbatasan besar.
AMEC mendorong evaluasi komunikasi bergerak dari input dan aktivitas menuju output, respons audiens, outcome, dan dampak organisasi.
Artinya, tim dapat mengukur beberapa lapisan.
Output
Jumlah coverage, media tier, reach, message inclusion, spokesperson quotation, sentiment, dan share of voice.
Outtake
Apakah audiens melihat, memahami, mengingat, atau merespons informasi.
Outcome
Apakah ada perubahan awareness, trust, consideration, preference, atau perilaku.
Business impact
Apakah komunikasi membantu objective organisasi seperti leads, stakeholder support, reputasi, atau business continuity.
AMEC juga mengingatkan bahwa volume dan impressions saja memiliki nilai terbatas jika tidak dikaitkan dengan outcome.
Jadi, laporan media relations seharusnya tidak berhenti pada clipping.
Contoh Implementasi Media Relations
Cara media relations diterapkan berbeda tergantung organisasi dan tujuan.
Media relations untuk perusahaan
Perusahaan dapat menggunakan media relations untuk membangun positioning, menjelaskan strategi bisnis, memperkenalkan leadership, memberi perspektif industri, atau mengelola isu.
Contohnya, perusahaan yang sedang menjalankan transformasi bisnis dapat memiliki beberapa kebutuhan sekaligus.
Media perlu memahami alasan perubahan.
Karyawan membutuhkan pesan yang konsisten.
Stakeholder bisnis perlu mengetahui dampaknya.
Manajemen membutuhkan key message dan narrative yang sama.
Dalam portfolio retainer komunikasi strategis Markathing, PT IAS Support Indonesia menggunakan pendekatan advisory untuk memperkuat corporate communications dan stakeholder engagement. Pekerjaannya mencakup communication strategy, key messaging, executive communication materials, dan rekomendasi yang dikaitkan dengan business objective.
Contoh ini menunjukkan bahwa media relations paling efektif ketika ditempatkan dalam communication strategy yang lebih besar.
Bukan berdiri sebagai aktivitas mengirim berita.
Media relations untuk pemerintah
Media relations untuk pemerintah memiliki konteks berbeda karena informasi berkaitan dengan kepentingan publik.
Kecepatan, akurasi, koordinasi antarinstansi, dan konsistensi pesan menjadi sangat penting.
Satu isu dapat melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga teknis, media nasional, media lokal, serta masyarakat terdampak.
Kesalahan koordinasi dapat menghasilkan informasi yang saling bertentangan.
Portfolio kerangka komunikasi Markathing bersama Komdigi menunjukkan pendekatan penyelarasan stakeholder untuk membangun respons komunikasi krisis yang lebih konsisten di berbagai lapisan birokrasi.
Dalam situasi seperti ini, media relations bukan sekadar menyediakan spokesperson.
Tim perlu memastikan narasi, data, alur approval, pembagian kewenangan, dan mekanisme pembaruan informasi saling terhubung.
Media relations untuk product launch
Peluncuran produk memiliki tantangan berbeda.
Brand sering merasa produknya menarik karena baru bagi perusahaan.
Jurnalis akan bertanya apakah produk tersebut baru atau relevan bagi pembaca.
Karena itu, media angle perlu melampaui fitur.
Sebuah brand skincare, misalnya, dapat membawa data mengenai perubahan kebutuhan konsumen, perkembangan kategori, riset formula, atau tren penggunaan bahan tertentu.
Brand teknologi dapat menjelaskan masalah yang ingin diselesaikan dan perubahan perilaku pengguna yang melatarbelakanginya.
Peluncuran menjadi lebih kuat ketika produk ditempatkan dalam cerita yang lebih besar.
Media briefing, product experience, interview dengan expert, press kit, data sheet, dan visual asset dapat membantu jurnalis memahami cerita tersebut.
Namun, keputusan editorial tetap berada pada media.
Tantangan Media Relations di Era Digital
Media relations tidak kehilangan relevansi ketika media sosial berkembang.
Justru lingkungannya menjadi lebih kompleks.
Perubahan lanskap media mainstream dan digital
Dulu, publikasi media memiliki ritme yang lebih mudah diprediksi.
Sekarang satu berita dapat berkembang dalam hitungan menit.
Portal online memperbarui artikel secara cepat. Jurnalis menggunakan media sosial untuk mencari informasi dan sumber. Podcast, newsletter, creator, dan independent media ikut membentuk percakapan publik.
Perusahaan tidak bisa lagi menggunakan daftar media sekali setahun lalu menganggap pekerjaan selesai.
Media landscape perlu dipetakan berdasarkan influence dan audience relevance, bukan hanya status “media nasional” atau “media lokal”.
Format pitching juga perlu menyesuaikan.
Televisi membutuhkan visual.
Podcast membutuhkan pembicara dengan perspektif dan cerita.
Media online membutuhkan informasi yang dapat diproses cepat.
Media industri membutuhkan kedalaman.
Tidak ada satu format yang cocok untuk semuanya.
Fake news dan post truth era
Informasi keliru menambah kompleksitas pekerjaan komunikasi.
Perusahaan perlu memiliki proses verifikasi internal yang kuat sebelum merespons.
Jangan membantah setiap rumor dengan cara yang justru memperbesar penyebarannya.
Nilai lebih dulu skala, sumber, potensi dampak, dan audiens yang terpapar.
Jika respons diperlukan, utamakan informasi yang dapat diverifikasi.
Sediakan fakta, timeline, dokumen pendukung bila memungkinkan, dan spokesperson yang memang memiliki otoritas.
Media monitoring juga perlu bekerja cepat agar tim dapat membedakan pertanyaan jurnalis, kritik publik, kesalahan informasi, dan serangan yang sengaja dimanipulasi.
Kecepatan penting.
Namun, cepat tanpa akurat dapat menambah krisis baru.
Media relations dan social media management
Media relations dan social media saling mendukung tetapi tidak sama.
| Media Relations | Social Media Management |
| Mengelola hubungan dengan media dan jurnalis | Mengelola komunikasi langsung melalui akun brand |
| Bergantung pada keputusan editorial media | Brand memiliki kontrol lebih besar terhadap publikasi |
| Fokus pada news value dan credibility | Fokus pada audience engagement dan content |
| Coverage bersifat earned | Konten akun sendiri bersifat owned |
| Cocok untuk third party validation | Cocok untuk komunikasi langsung dan community interaction |
Ketika ada pengumuman perusahaan, misalnya, media relations dapat membantu menjelaskan isu kepada jurnalis sementara social media menyampaikan informasi langsung kepada followers.
Keduanya sebaiknya menggunakan narrative yang selaras.
Namun, gaya komunikasinya tidak harus sama.
Tips Memilih Agency Media Relations
Agency tidak hanya membawa media database.
Partner yang baik harus mampu memahami bisnis, menemukan cerita yang relevan, membangun sistem komunikasi, serta mengevaluasi hasilnya.
Periksa pengalaman dan portfolio
Jangan hanya menanyakan berapa banyak klien yang pernah ditangani.
Lihat jenis masalah yang pernah mereka selesaikan.
Apakah pengalaman agency hanya product launch?
Apakah mereka juga mampu menangani corporate communication?
Bagaimana ketika menghadapi isu sensitif?
Apakah pernah bekerja dengan organisasi yang memiliki banyak stakeholder?
Portfolio membantu membaca kedalaman pengalaman.
Namun, jangan berharap agency membuka informasi klien yang bersifat confidential.
Case study yang baik cukup menjelaskan konteks, problem, pendekatan, dan hasil yang memang boleh dipublikasikan.
Jangan hanya menilai jaringan media
Media network memang berguna.
Namun, hubungan dengan banyak wartawan bukan jaminan semua berita akan tayang.
Jurnalis tetap bekerja berdasarkan kebutuhan editorial.
Agency yang menjanjikan earned media pasti tayang di semua media justru perlu ditanya lebih jauh apakah yang ditawarkan benar benar earned coverage atau paid placement.
Media relations yang sehat mengandalkan relevance dan relationship.
Jaringan membantu membuka komunikasi. Substansi menentukan apakah cerita layak dilanjutkan.
Periksa approach dan methodology
Tanyakan bagaimana agency bekerja sebelum campaign dimulai.
Apakah mereka melakukan media mapping?
Bagaimana mereka mencari news angle?
Bagaimana proses menyusun key message?
Siapa yang menyiapkan spokesperson?
Bagaimana menangani media inquiry?
Bagaimana monitoring dilakukan?
Apa yang dilaporkan selain clipping?
Pendekatan ini memberi gambaran apakah agency bekerja sebagai press release distributor atau strategic communication partner.
Markathing menempatkan Public Relations and Media Strategy sebagai bagian dari layanan marketing communications, bersama crisis communication, stakeholder engagement, media monitoring, dan impact evaluation.
Pendekatan semacam ini relevan ketika perusahaan membutuhkan media relations yang terhubung dengan reputasi dan business objective, bukan aktivitas publikasi yang berdiri sendiri.
FAQ
Apa itu media relations
Media relations adalah proses membangun serta menjaga hubungan profesional antara organisasi dengan media dan jurnalis agar informasi yang relevan dan memiliki nilai berita dapat disampaikan kepada publik.
Aktivitasnya mencakup media mapping, pitching, press release, interview, media briefing, merespons inquiry, hingga monitoring pemberitaan.
Apa perbedaan media relations dan public relations
Public relations memiliki cakupan lebih luas karena mengelola hubungan organisasi dengan berbagai stakeholder.
Media relations merupakan salah satu fungsi di dalam PR yang secara khusus berfokus pada jurnalis dan organisasi media.
Apa saja aktivitas media relations
Aktivitas media relations dapat mencakup pemetaan media, pembuatan media list, penyusunan press release, pitching, press conference, media briefing, interview arrangement, media visit, press kit, spokesperson preparation, media monitoring, dan evaluasi coverage.
Jenis aktivitas dipilih berdasarkan objective, bukan digunakan semuanya dalam setiap campaign.
Apa manfaat media relations untuk perusahaan
Media relations membantu perusahaan membangun visibility, credibility, thought leadership, dan hubungan profesional dengan media.
Fungsi ini juga penting ketika perusahaan perlu menjelaskan keputusan bisnis, merespons isu, melakukan product launch, atau menghadapi crisis communication.
Apa tugas media relations officer
Media relations officer biasanya mengelola hubungan organisasi dengan jurnalis dan media.
Pekerjaannya dapat meliputi media monitoring, menjaga database kontak, menyusun materi media, mencari news angle, mengatur interview, menjawab inquiry, menyiapkan spokesperson, serta mengevaluasi hasil komunikasi.
Scope dapat berbeda tergantung ukuran dan struktur organisasi.
Bagaimana mengukur keberhasilan media relations
Jangan hanya menghitung jumlah artikel.
Gunakan kombinasi output seperti coverage, media quality, message inclusion dan share of voice, kemudian hubungkan dengan outcome seperti awareness, understanding, trust, consideration, stakeholder response, atau dampak bisnis yang relevan.
AMEC merekomendasikan evaluasi yang bergerak dari aktivitas dan output menuju outtake, outcome, serta organisational impact.
Kesimpulan
Media relations bukan sekadar mengirim press release atau memiliki nomor telepon banyak wartawan.
Intinya adalah hubungan.
Perusahaan perlu memahami apa yang dibutuhkan media, menyediakan informasi yang kredibel, membangun narasumber yang dapat dipercaya, merespons secara profesional, dan menghormati independensi editorial.
Ketika dikelola secara strategis, media relations dapat membantu bisnis membangun awareness, memperkuat credibility, mendukung positioning, serta menjaga reputasi ketika perhatian publik meningkat.
Namun, coverage bukan tujuan akhir.
Media relations perlu bergerak dari business objective.
Riset menentukan media mana yang relevan. Media mapping membantu menentukan prioritas. News angle membuat informasi memiliki konteks. Hubungan dengan jurnalis membuka ruang dialog. Monitoring menunjukkan bagaimana cerita berkembang. Measurement membantu perusahaan memahami apa yang benar benar berubah.
Di sinilah media relations bertemu dengan strategic communication.
Media bukan sekadar saluran untuk menyebarkan pesan perusahaan. Media merupakan stakeholder dengan kebutuhan, standar, audiens, dan independensinya sendiri.
Perusahaan yang memahami hal tersebut biasanya tidak hanya lebih siap mendapatkan coverage.
Mereka juga lebih siap menghadapi pertanyaan sulit ketika reputasi benar benar diuji.


