Aldi Taher ikut meramaikan bisnis kuliner dengan membuka Aldi’s Burger di Cempaka Putih.
Burger ini dipromosikan langsung oleh Aldi melalui media sosialnya.
Menu burger sederhana ini justru cepat dikenal publik karena cara promosinya yang tidak biasa.
Aldi Taher tidak pakai slogan panjang, ia justru membuat kalimat promosi yang absurd dan panjang.
“Rotinya lembut, dagingnya juicy lucy feast hindia mahalini rizky febian…”
Ia memasukkan nama-nama musisi dan kata random ke dalam promosi burgernya.
Aneh? Iya.
Tapi justru karena itu, orang jadi ingat dan membicarakannya.
Yang lebih mengejutkan…
Aldi Taher tidak hanya mempromosikan burgernya sendiri.
Ia juga menyebut dan memuji burger dari brand lain.
Aldi tidak menjatuhkan kompetitor, ia justru mendukung sesama penjual burger.
Pendekatan ini membuat netizen melihat promosinya sebagai sesuatu yang unik dan positif.
Cara promosi yang terlihat “tidak serius” ini justru membuat:
- Banyak orang penasaran dengan Aldi’s Burger
- Kontennya viral di media sosial
- Orang ikut mengulang slogan promosinya
Dalam era media sosial, konten yang unik dan menghibur lebih mudah menarik perhatian dibanding promosi biasa.
Kasus Aldi Taher menunjukkan satu hal:
Marketing tidak selalu harus sempurna dan formal.
Kadang yang paling efektif adalah sesuatu yang autentik, menghibur, dan berbeda dari yang lain.
Karena di media sosial, yang paling diingat bukan yang paling rapi, tapi yang paling unik.
Menurut kamu,
Strategi Aldi Taher ini jenius atau cuma gimmick viral?
